Jakarta, PCplus – Indonesia resmi dicatat sebagai sumber malware terbesar sepanjang 2025. Laporan AwanPintar.id menemukan 234.528.187 serangan siber terjadi pada semester kedua, rata-rata 15 serangan per detik. Angka ini meningkat 75,76% dibanding semester pertama. Pada Desember 2025 saja, serangan mencapai 90 juta insiden, dipicu oleh DDoS dan lonjakan transaksi digital akhir tahun.
Baca Juga: Malware Banking Astaroth Menyebar Lewat Whatsapp
Serangan tidak lagi dilakukan individu, melainkan kelompok terorganisir. Infrastruktur penting seperti server perusahaan, PC, dan perangkat IoT terindikasi sudah terkompromi. Kondisi ini memperlihatkan lemahnya literasi keamanan digital di masyarakat.

Eksploitasi Hak Akses dan Botnet
Upaya pencurian hak akses admin Windows meningkat 57,74%. Serangan ini memanfaatkan sistem operasi yang belum ditambal. Botnet Mirai, yang aktif kembali sejak 2025, memperburuk situasi dengan menginfeksi perangkat IoT untuk melancarkan serangan DDoS skala besar.
Backdoor DoublePulsar mendominasi serangan, hampir 100 persen kasus. Serangan ini berbahaya karena tersembunyi dan sulit terdeteksi. Infrastruktur digital Indonesia pun semakin rentan terhadap ransomware dan pencurian data.
Indonesia Jadi Pengirim Spam dan Malware
Spam email melonjak tajam pada Juli 2025, mencapai 36,34%. Indonesia tercatat sebagai pengirim spam terbesar, naik dari 21,45% menjadi 56,29%. Infrastruktur lokal, termasuk IP publik dan server, dipakai penyerang untuk mengirim spam massal.
Serangan malware juga fluktuatif. Setelah melonjak awal tahun, aktivitas menurun drastis hingga 0,30% pada Desember. Meski begitu, Indonesia tetap menjadi pengirim malware terbanyak dengan 61,32%. Banyak perangkat di dalam negeri berubah menjadi “zombie” penyebar malware.
Eksploitasi CVE dan Rekomendasi
Eksploitasi celah keamanan meningkat tajam. CVE-2020-11900 pada TCP/IP Treck melonjak dari 1,39% menjadi 22,97%. Ancaman terhadap CVE-2018-13379 pada VPN Fortinet mencapai 20,12%. Penyerang juga mulai mengeksploitasi celah pada React Server Components untuk aplikasi web modern.
Kaspersky menambahkan, hampir 5 juta ancaman online berhasil digagalkan di Indonesia sepanjang 2024. Meski ada penurunan serangan, kebersihan siber tetap penting. Pengguna disarankan rutin memperbarui sistem, menghindari aplikasi pihak ketiga, dan memakai VPN untuk koneksi aman.
Indonesia kini berada di titik krusial dalam ketahanan siber. Pertahanan pasif tidak lagi cukup. Perusahaan dan masyarakat perlu mengadopsi budaya keamanan digital proaktif. Patching sistem, audit VPN, serta edukasi literasi keamanan harus segera diprioritaskan.
Dengan kondisi ini, jelas bahwa Indonesia sumber malware terbesar 2025 bukan sekadar label, melainkan peringatan keras bagi semua pihak.


Comments
Loading…