Jakarta, PCplus – Agentic AI telah dianggap sebagai tonggak baru dalam dunia kecerdasan buatan. Jika sebelumnya chatbot hanya menjawab pertanyaan, kini agen digital mampu bertindak secara mandiri. Dengan satu instruksi, sistem dapat merencanakan, mengeksekusi, dan menyelesaikan pekerjaan kompleks.
Baca juga: Rimini Street Kenalkan Agentic AI ERP Baru
Contohnya, sebuah perintah sederhana seperti riset kompetitor dan pengiriman laporan dapat dijalankan otomatis. Agen akan membuka browser, mencari data, memverifikasi sumber, menulis dokumen, lalu mengirimkannya melalui email. Konsep ini dikenal sebagai Multi-agent Systems, di mana modul AI bekerja layaknya departemen dalam perusahaan.
Menurut laporan terbaru, pasar teknologi ini diprediksi melonjak dari 7,8 miliar dolar menjadi lebih dari 52 miliar dolar pada 2030. Gartner bahkan memperkirakan 40% aplikasi perusahaan akan mengintegrasikan AI agen pada akhir 2026, naik drastis dari 5% di 2025.
Mengapa 2026 Jadi Titik Balik?
Tahun 2026 disebut sebagai era transisi besar bagi agentic AI. Ada beberapa faktor utama yang mendorong hal ini:
- Integrasi API matang: Hampir semua aplikasi produktivitas kini terhubung dengan AI.
- Kemampuan reasoning meningkat: Model bahasa besar lebih jarang melakukan kesalahan logika.
- Kebutuhan efisiensi: Perusahaan mencari AI yang mampu menyelesaikan pekerjaan, bukan sekadar menulis.
Selain itu, negara seperti Singapura telah meluncurkan kerangka regulasi khusus untuk tren ini. Framework ini menjadi panduan global pertama dalam mengelola risiko agen mandiri, termasuk keamanan dan privasi.
Manfaat dan Tantangan Agentic AI
Agentic AI membawa dampak besar bagi bisnis maupun individu:
- Otomatisasi tanpa batas: Dari layanan pelanggan hingga manajemen proyek.
- Pengurangan biaya operasional: Tugas rutin selesai dalam hitungan detik.
- Akurasi berbasis data: Risiko kesalahan manusia dapat ditekan seminimal mungkin.
Namun, tantangan keamanan tetap menjadi perhatian. Memberikan akses eksekusi kepada AI berarti sistem harus terlindungi dari serangan siber. Perusahaan dituntut menyiapkan tim manajemen perubahan untuk membangun kepercayaan, merancang ulang insentif, dan memastikan keamanan digital.
Agentic AI bukan lagi sekadar tren, melainkan fondasi produktivitas baru di tahun 2026. Dengan pemahaman yang tepat, kamu bisa memanfaatkan agen digital sebagai rekan kerja yang selalu siap menyelesaikan tugas. Era ini menandai pergeseran dari AI yang pasif menjadi AI yang benar-benar mandiri.
Apakah kamu sudah siap menyambut era baru agentic AI?


Comments
Loading…